Rabu, 01 Mei 2013

LAPORAN PRAKTIKUM PEMULIAAN TERNAK



PENDAHULUAN

 Latar Belakang
Pengetahuan tentang umur pada suatu peternakan sapi mempunyai arti penting, karena berhubungan dengan biaya dan waktu hewan tersebut masih bisa dipelihara. Penafsiran umur ini dapat dilihat menggunakan metode pengamatan pada pergantian dan keterasahan gigi seri, wawancara dengan pemillik ternak, recording, mengamati saat jatuhnya tali pusar, dan munculnya cincin tanduk serta melihat pertumbuhan bulu dan tingkah lakunya.
Penampilan ternak saat hidup mencerminkan produksi dan kualitas karkasnya. Ketepatan penaksir dalam menaksir nilai ternak tergantung pada pengetahuan penaksir dan kemampuan menterjemahkan keadaan dari
ternak itu. Keadaan ternak yang perlu mendapat perhatian pada saat menaksir pro-duktivitas ternak adalah umur dan berat, pengaruh kelamin, perdagingan, derajat kegemukan dan persentase karkas.
Pada dasarnya penilaian ternak dilaksanakan berdasarkan atas apa yang terlihat dari segi penampilannya saja dan kadang-kadang terdapat hal-hal yang oleh peternak dianggap sangat penting, akan tetapi ahli genetika berpendapat bahwa hal tersebut sebenarnya tidak ada pengaruhnya terhadap potensi perkembangbiakan atau produksi. Oleh karena itu, dalam penentuan seleksi ternak sebaiknya kedua cara penilaian digunakan. Jadi selalu ternak ternak tersebut mempunyai kedudukan urut atau rangking tertinggi berdasarkan nilai rekor performanya, juga baik dalam memenuhi persyaratan secara fisik.
Untuk menilai ternak diantaranya  harus mengenal  bagian-bagian dari tubuh sapi serta konformasi tubuh yang ideal. Ternak yang dinilai harus sehat dan baik sesuai dengan jenis bangsanya,  bagus ukuran tubuhnya, seluruh bagian tubuh harus berpadu dengan rata, harus feminin dan tidak kasar. Dengan demikian, maka kita dapat menentukan perbandingan antara kondisi sapi yang ideal dengan kondisi sapi yang akan kita nilai. Bagian-bagian tubuh sapi yang mendekati kondisi ideal dapat menunjang produksi  yang akan dihasilkannya.
Tujuan Praktikum
Tujuan yang ingin dicapai dalam praktikum ini yaitu agar mahasiswa  dapat mengetah mengetahui ukuran-ukuran tubuh pada ternak.
Manfaat Praktikum
Dengan mengetahui ukuran-ukuran tubuh pada ternak kita dapat mengidentifikasi bobot badan pada ternak tersebut.



TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Supiyono (1995), eksterior atau tilik ternak adalah suatu ilmu yang mempelajari bentuk-bentuk tubuh dari luar untuk menentukan atau meramalkan prestasi dari suatu ternak. Sesuai tujuan pemeliharaan sekaligus untuk menilai tingkat pemurnian bangsa ternak dan merupakan alat bantu pelaksanaan program seleksi ternak dalam rangka perbaikan mutu genetik kelompok ternak.
Untuk melakukan penilaian terhadap hasil karkas, perlu dipelajari dan diketahui terlebih dahulu tentang pembagian karkas api. Sebab dengan mengetahui pembagian karkas tersebut, para peternak ataupun tukang potong akan mampu melakukan penilaian dengan betul.
Untuk menentukan bakalan yang akan dipilih dalam usaha penggemukan, dapat ditentukan berdasarkan penampilan sapi dengan melakukan penilaian/scoring. Dimana  dengan skor tubuh 1, terlihat tidak adanya lemak pada pangkal ekor dan iga pendek, sapi dengan penampilan seperti itu dapat dikatakan terlalu kurus, bermutu rendah dan mungin sebelumnya pernah sakit. Sapi dengan iga pendek terlihat dan terasa sudah agak tumpul, pada pangkal ekor terhadap sedikit lemak mendapatkan skor tubuh 2, dengan mutu yang cukup. Sapi dengan skor tubuh 3, iga pendek sulit untuk dirasakan, pangkal ekor mulai gemuk, dan kantong pelir sudah mulai terisi. Sapi dengan skor tubuh 4, telah mencapai tingkat gemuk sehingga penambahan berat badan selanjutnya akan menjadi mahal dan tidak menguntungkan (Nguntoronadi, 2010).
Penilaian ini untuk menentukan tingkat dan kualitas akhir melalui perabaan yang dirasakan melalui ketipisan, kerapatan, serta perlemakannya. Bagian-bagian daerah perabaan pada penilaian (judging) ternak sapi meliputi ; bagian rusuk, bagian Tranversusprocessus pada tulang belakang, bagian pangkal ekor, bagian bidang bahu. Penilaian tersebut dilakukan pada setiap individu ternak sapi yang akan dipilih dengan cara mengisihkan skor yang sesuai dengan penilaian melalui pengamatan, pandangan dan perabaan. Dalam hal ini penilaian harus dilakukan sesubjektif mungkin. Untuk menunjang hasil yang lebih akurat, penilaian tersebut lazimnya dilengkapi lagi dengan pengukuran bagian-bagian tubuh yaitu tinggi pundak/ gumba, panjang badan, lingkar dada dan dalam dada (Todingan, 2010).



 
METODOLOGI PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat
            Praktikum Pemuliaan Ternak yang dilaksanakan di kandang ternak potong pada hari Kamis tanggal 17 Mei 2012 di Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin., Makassar.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat adalah Jangka ukur, meteran, dan Tongkat ukur. sedangkan bahan dalam praktikum ini adalah ternak sapi jantan dan betina yang berada di Kandang Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makassar.
 Prosedur Kerja
            Mengamati ternak Sapi Jantan dan Betina dengan memanfaatkan Alat yang digunakan pada Praktikum ini antara lain:
·         Meteran yang berfungsi untuk mengukur Lingkar Dada, Lingkaran Pergelangan Kaki, Panjang kepala, dan lebar Kepala pada ternak.
·         Jangka Ukur yang berfungsi untuk mengukur lebar dada, Lebar punggung, Lebar kelangkangan, Lebar tulang tapis, dan panjang kelangkang pada ternak.
·         Tongkat Ukur yang berfungsi untuk tinggi pundak, tinggi punggung, panjang dada, dan dalam dada pada ternak tersebut.

 
HASIL DAN PEMBAHASAN

Pembahasan
Dalam pengukuran, disarankan berdiri dengan jarak 2 meter dari sapi yang akan diukur. Selanjutnya, memulai pengukuran dari depan kemudian mengitari sisi sebelah kiri dan kanan mengelilingi seluruh tubuh hewan.
                        Pengukuran ternak sapi yang kami lakukan adalah pada daerah-daerah tertentu saja seperti tinggi gumba, tinggi kemudi, dalam dan lebar dada, panjang tubuh, panjang tungging dan sebagainya.
1) Ukuran Tinggi
Tinggi gumba merupakan ukuran tinggi sapi. Cara pengukuran kita lakukan dari bagian tertinggi gumba ke tanah mengikuti garis tegak lurus dengan menggunakan tongkat ukur. Tinggi punggung atau kemudi yang tertinggi ke tanah mengikuti garis tegak lurus.
2) Ukuran lebar dada
Lebar dada adalah jarak antara sendi bahu kiri dan kanan. Cara pengukuran kita lakukan dengan menarik garis horizontal antara tepi luar sendi bahu kiri dan kanan,  atau antara rusuk kiri dan kanan yang diukur di belakang tulang belikat.
Lebar kemudi adalah jarak antara tepi sendi paha kiri dan kanan. Cara pengukuran kita lakukan dengan menarik garis horizontal daari tepi luar sendi paha kiri dan kanan. Pengukuran ini dilakukan dengan menggunakan alat jangka ukur yang di gunakan pada praktikum ini.


3) Ukuran Besar
Ukuran ini merupakan besarnya tubuh sapi yang bersangkutan yang diukur melalui lingkar dada. Cara pengukuran kita lakukan dengan menggunakan pita ukur atau rafiah  mengikuti lingkar dada atau tubuh dibelakang bahu melewati gumba pada sapi tersebut.
4)  Ukuran Panjang
Panjang badan merupakan jarak antara tepi depan sendi bahu dan tepi belakang tulang tapis. Cara pengukuran kita lakukan dengan menarik garis horizontal dari tepi depan sendi bahu sampai ke tepi belakang tulang tapis.
            Panjang tungging merupakan jarak antara muka pangkal paha sampai tepi belakang tulang tapis. Cara pengukuran dilakukan dengan menarik garis horizontal dari tepi luar pangkal pah sampai ke belakang tulang tapis.
http://3.bp.blogspot.com/-zl9wYZHGHVg/T4Qxej6sCtI/AAAAAAAAACA/qmr-j1bASH8/s320/Urtrd.jpg

 Gambar Pengukuran Panjang Badan
            Sapi Bali merupakan keturunan Bos sondaicus yang berhasil dijinakkan, dengan ciri-ciri khas putih pada bagian-bagian tubuh tertentu yaitu : pada kaki yang diawali dari sendi tartus dan carpus ke bawah sampai batas kuku, pada bagian belakang  pelvis, tepi daun telinga bagian dalam dan bibir bawah. Sapi Bali usia pedet, memiliki bulu sawo matang, sedang yang betina dewasa berbulu merah bata sejak lahir. Adapun yang jantan dewasa, mempunyai warna bulu hitam. Bila yang jantan dewasa kebiri, maka warna bulu hitam akan berubah menjadi merah bata kembali (Murtidjo, 1990).
            Dari karakteristik karkas, sapi bali digolongkan sapi pedaging ideal ditinjau dari bentuk badan yang kompak dan serasi, bahkan nilai lebih unggul daripada sapi pedaging Eropa seperti Hereford, Shortorn (Murtidjo, 1990). Oleh karena itu dianggap lebih baik sebagai ternak pada iklim tropik yang lembab karena memperlihatkan kemampuan tubuh yang baik dengan pemberian makanan yang bernilai gizi tinggi (Williamson dan Payne, 1993).

Adapun Ciri-ciri dari Sapi Bali yang di amati pada paraktikum ini adalah
·         Ukuran badan berukuran sedang dan bentuk badan memanjang.
·         Kepala agak pendek dengan dahi datar.
·         Badan tidak terlalu padat dengan dada yang dalam.
·         Tidak berpunuk dan seolah tidak bergelambir
·         Kakinya agak pendek
·         Pada bagian perut terdapat caplak.
·         Warna bulu pada sapi tersebut yaitu berwarna Kecoklatan dan pada bagian sekitar pantat berwarna putih.
Keunggulan Sapi Bali
·         Subur (cepat berkembang biak/ fertilitas tinggi)
·         Mudah beradaptasi dengan lingkungannya,
·         Dapat hidup di lahan kritis.
·         Mempunyai daya cerna yang baik terhadap pakan.
·         Persentase karkas yang tinggi.
·         Harga yang stabil dan bahkan setiap tahunnya cenderung meningkat.
·         Khusus sapi bali Nusa Penida, selain bebas empat macam penyakit, yaitu jembrana, penyakit mulut dan kuku, antraks, serta MCF (Malignant Catarrhal Fever). Sapi Nusa Penida juga dapat menghasilkan vaksin penyakit jembrana.
·         Kandungan lemak karkas rendah.
·         Keempukan daging tidak kalah dengan daging impor. 
·         Fertilitas sapi Bali berkisar 83 - 86 %, lebih tinggi dibandingkan sapi Eropa yang 60 %.
·         Karakteristik reproduktif antara lain : periode kehamilan 280 - 294 hari, rata-rata persentase kebuntingan 86,56 %, tingkat kematian kelahiran anak sapi hanya 3,65 %, persentase kelahiran 83,4 %, dan interval penyapihan antara 15,48 - 16,28 bulan. 
Kelemahan Sapi Bali
·         Dapat terserang virus Jembrana yang menyebar melalui media “lalat”.
·         Rentan terhadap Malignant Catarrhal Fever , jika berdekatan dengan domba.




PENUTUP

Pemilihan bibit berdasarkan penilaian postur tubuh seekor ternak akan semakin menyakinkan bila kita lanjutkan dengan pengukuran bagian – bagian tertentu seperti panjang tubuh/badan, lebar dan dalam dada, lingkar dada, dan tinggi punggung.
Bobot badan ternak sapi selain dengan cara menimbang dapat juga diperoleh dengan cara mengukur lingkar dada dan panjang badan ternak sapi tersebut, dan mempunyai hubungan yang linear. Antara besar lingkar dada dengan bobot badan ternak sapi terdapat korelasi yang positif. Selain itu, penentuan bobot fisik tubuh ternak sapi juga dapat digunakan untuk mengkalkulasi berat karkas pada ternak sapi.












DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2012.  Tilik Ternak. http://dodee88.wordpress.com/2012/10/14/tilik-ternak/.
Anonimous. 2012. Penilaian Eksterior Tubuh. http://webcache.googleusercontent. wordpress.com/2012/01/10/penilaian-eksterior-tubuh ternak/TILIK+TERNAK& &gl=id.
Sudarmono. A. S., 2008. Sapi Potong.Penebar Swadaya. Jakarta.
Todingan, Lambe. 2010. Pemilihan Dan Penilaian Ternak Sapi Potong Calon Bibit. http://disnaksulsel.info. Sulawesi Selatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar